Pameran

PAMERAN MUSEUM HAM OMAH MUNIR

Pameran pada Museum HAM Omah Munir tidak hanya dirancang untuk melihat ke belakang, untuk membantu pengunjung untuk mengingat kembali berbagai peristiwa dalam sejarah HAM di Indonesia, namun juga secara optimis melihat ke masa depan penegakkan HAM di Indonesia.

Saat ini pameran Museum HAM Omah Munir mencakup berbagai kasus pelanggaran HAM di Indonesia seperti kasus Marsinah,  kasus pembunuhan petani di Nipah, Madura, kasus pelanggaran HAM di Aceh masa DOM dan Darurat Militer,  kasus penghilangan paksa masa Orde Baru.  Pameran juga menampilkan lahirnya gerakan HAM di Indonesia melalui terbentuknya YLBHI,  serta biografi beberapa tokoh HAM di Indonesia seperti Yap Thiam Hien dan Munir.

Sepak terjang Munir sebagai inspirasi utama Omah Munir ditampilkan dalam beberapa pameran seperti biografinya, berbagai barang-barang pribadinya dan yang tak kalah penting berbagai penghargaan nasional dan internasional yang dianugerahkan kepadanya.  Museum juga menampilkan pameran kronologi terbunuhnya Munir dengan racun arsenik pada 7 September 2004.

Pengembangan Museum HAM Omah Munir pada tahap berikut akan mencakup:

Dari segi fisik, arah pengembangannya dirancang dengan:

1.Pengembangan ruang pamer temporer terkait isu-isu HAM penting di Indonesia (toleransi, kebebasan pers, perempuan, lingkungan dan lainnya). Ruang pameran temporer juga dirancang menjadi ruang serba guna yang dapat menjadi tempat bagi rangkaian kegiatan terkait tema HAM (diskusi, pemutaran film, pertunjukkan seni dll)

2.Pengembangan ruang anak bagi pengunjung tingkat sekolah dasar yang berisi rangkaian permainan berisi nilai-nilai HAM;

3.Pengembangan ruang-ruang khusus yang menampung koleksi isu-isu penting dalam sejarah dan situasi kontemporer penegakkan HAM di Indonesia:

a.Sejarah HAM yang berisi koleksi-koleksi pribadi dari tokoh-tokoh penting yang memelopori penegakkan HAM di Indonesia (J.C. Princen, Yap Tian Hiem, Gus Dur, dll)

b.Ruang Tiga Kebebasan Dasar (Berkumpul, Berserikat, dan Berpendapat) yang memuat koleksi-koleksi pribadi dari sosok penting perjuangan penegakkan HAM di Indonesia (Marsinah, Jurnalis, dll);

c.Ruang Kewargaan yang menjadi ajang penting dalam menanamkan nilai-nilai toleransi dan kesadaran civic di dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang demokratis;

d.Ruang Perjuangan Perempuan yang berisi tentang riwayat Sejarah perkembangan gerakan perempuan dan penegakkan HAM di Indonesia;

e.Ruang Ekologis yang menjadi tempat menanamkan kesadaran arti penting keadilan ekologis bagi masyarakat Indonesia;

f.Ruang Masyarakat Adat yang menjadi tempat bagi kisah-kisah dari perjuangan masyarakat adat di Indonesia dalam meraih hak-haknya

Selain upaya memenuhi kebutuhan perluasan fungsi ruang sesuai dengan visi pembangunan OM sebagai museum HAM, beberapa agenda program penting terkait fungsinya sebagai lembaga pengembangan pengetahuan HAM di Indonesia membutuhkan ruangan tersendiri dan perangkat pendukung. Adapun unsur penting dari ruang pendukung dalam pelaksanaan program ini adalah:

1.Pengembangan ruang dokumentasi terkait akuisisi arsip dan sumber dokumen penting dalam sejarah HAM di Indonesia. Tujuan pengembangan program ini didasarkan pada kenyataan lemahnya proses dokumentasi yang terkait kisah penegakkan HAM di Indonesia. OM sebagai museum HAM memandang pentingnya melakukan digitalisasi dokumen-dokumen tersebut sebagai bahan studi dan penyimpanan pengetahuan penting terkait sejarah penegakkan HAM di Indonesia;

2.Pengembangan ruang kreatif bagi komunitas dan kalangan generasi muda menjadi bagian penting dari perencanaan pengembangan OM yang diharapkan dapat menjadi tempat pertukaran pengetahuan dan pengolahan kreativitas dari lingkungan sekitar tempat museum berada;

3.Pengembangan ruang perawatan dan penyimpanan koleksi yang sekaligus menjadi ruang kantor administrasi OM.

Rancangan baru ini direncanakan akan dibuat menjadi dua lantai sehingga dapat menambah kekayaan Omah Munir untuk menguraikan gambaran sejarah penegakkan HAM di Indonesia yang akan ditempatkan di lantai dua. Rancang bangun ini diharapkan dapat juga memberikan keunikan tempat sebagai museum HAM dari sudut arsitektur. Dengan memperhatikan bahwa Munir pernah menempati rumah tersebut dalam waktu yang singkat, rancang bangun yang diusulkan akan tetap mempertahankan beberapa kenangan lama yang menunjukkan pengalaman tentang sosok Munir terkait tempat tinggalnya. Pembangunan rancang bangun baru dengan demikian akan disesuaikan melalui adaptasi sesuai prinsip dasar konservasi dan pemugaran tempat bersejarah.

1. LANTAI I: Memorabilia Keluarga & Kiprah Munir dalam Penegakkan HAM di Indonesia

2.LANTAI II: Sejarah Penegakkan HAM di Indonesia

[museumwp_events columns=”one” num_of_posts=”4″ title=”Upcoming Event”]