Diskusi

Omah Munir telah memfasilitasi berbagai kalangan untuk menyelenggarakan forum-forum diskusi kajian ilmiah bedah buku dan bahkan ajang “no-bar” (nontonbareng) film-film bertema HAM. Berbagai isu faktual tentang keadilan dan HAM serta perkembangan penyelesaian kasus kematian Cak Munir menjadi pilihan utama. Omah Munir disokong oleh para relawannya dan komunitas-komunitas peduli HAM yang aktif dan peduli. Mereka yang akan terus menjadi motor penggerak yang menghidupakan museum sebagai media pendidikan. Mahasiswa, aktivis, kelompok-kelompok advokasi masyarakat, hingga kalangan jurnalistik, menjadi pihak-pihak yang sering bekerjasama dengan Omah Munir untuk menyelenggarakan forum-forum diskusi.

 

Dalam kurun setahun terakhir, beberapa agenda diskusi telah terselenggara.

1. Diskusi dan pemutaran film dokumenter “Masih Ada Asa” menjadi sajian di awal tahun 2016, tepatnya pada tanggal 13 Januari 2016. Film yang berkisah tentang advokasi korban kekerasan seksual ini menghadirkan Olin Monteiro (produser film) dan Salma Safitri (aktivis perempuan Kota Batu) sebagai pembicara. Sekitar 50-an peserta dari berbagai kalangan turut berpartisipasi dalam acara ini.

2. Pekan merawat ingatan 12 tahun Munir yang diselenggarakan sepanjang bulan September 2016 diisi degan berbagai acara diskusi, pemuataran film dan napak tilas. Peringatan 12 tahun kematian Munir ini, menampilkan film Garuda Deadly, His Story, dan Kiri Hijau Kanan Merah sebagai materi diskusi film. Diskusi dan Pemutaran film ini sukses dilakukan di 12 kota di Indonesia, yakni Jakarta, Malang, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Medan, Aceh, Papua, Ambon, Makassar, Bandung, Lombok, dan Lombok.

3. Sepanjang bulan September 2016, selain 12 kota yang sukses menggelar diskusi film, LBH Bali turut menggelar acara serupa. Diskusi film dengan judul: Bunga Dibakar dan Cerita Tentang Munir turut digelar di Universitas Mahareswari, Bali. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Cenderawasih turut menggelar acara yang sama bertempat di Auditorium Universitas Cenderawasih Papua pada 28 September 2016.

4. Diskusi publik dan siaran pers aktivis Kota Malang terkait perkembangan kasus hukum pembunuhan Munir digelar pada 17 Oktober 2016. Diskusi yang turut merespon hilangnya dokumen hasil Tim Pencari Fakta kasus Munir ini digelar di Omah Munir. Kegiatan ini sukses menyataukan sikap sekitar 50 aktivis se-Kota Malang untuk mendesak negara bertanggung jawab atas hilangnya dokumen TPF tersebut.

5. Diskusi terkait hilangnya dokumen Tim Pencari Fakta kembali digelar pada bulan November. Kali ini Komunitas Aksi Kamisan, dosen, mahasiswa, wartawan, dan para aktivis HAM menjadi pendukung diskusi ini. Suciwati dan Sri Suparyati sebagai pembicara berhasil mendudukan semua kalangan untuk berdiskusi bersama merespon hilangnya dokumen TPF.

Modul HAM